Let us find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart ~

Minggu, 13 April 2014

Gelas Penuh



Sahabat tersayang, izinkan aku mengutarakan beberapa hal yang pernah kau tanyakan kepadaku, untuk kemudian menjadi pelajaran semua yang membaca ini. Tidak akan ada yang tahu siapa kau, tentu saja kecuali Tuhan, aku, dan dirimu sendiri.
            Kisah ini dimulai…
            Malam itu langit murung, mungkin semurung hati sahabatku. Siang tadi, wajahnya tak secerah biasanya. Ia juga sedkit bicara, dan sejujurnya dalam diamnya, ia terlihat lebih keren dari biasanya. *hehe, tapi bukan masalah itu yang ingin aku bagi disini*
            Aku sedang berduaan dengan laptopku ketika malam itu. Hapeku bergetar. Aku acuhkan saja. Urusanku dengan laptop belum selesai. Aku melanjutkan ceritaku, merampungkannya, dan celingukan mencari hape. *aku pelupa, kalau sedang di asrama dengan teman-teman, biasanya aku meminta tolong mereka untuk missed call hapeku, hehe*
            Kubuka hapeku, 1 message received. Read. Ternyata dari sahabatku tadi. Empat huruf, membentuk kata yang biasanya ia gunakan untuk memanggilku *Ucik* dan emoticon :’( *cry*. Kubalas “Kenapa?” Dan ia bercerita panjang lebar, tentang kemendungan hatinya.
            Akan kuceritakan secara singkat…
            Sahabatku tadi, menyukai seseorang yang sudah memiliki komitmen dengan orang lain. Ia tahu benar tentang komitmen itu. Sahabatku dan orang yang ia sukai sudah berteman lama, bahkan menjadi rekan kerja dalam satu divisi di suatu organisasi. Menurutku, ini bisa dibilang cinlok *cinta lokasi* kayak yang ada di filem-filem atau di novel remaja yang kisaran halamannya cuma sampe 200-an.
            Aku belum bisa memberi solusi apa-apa saat itu. Aku lantas meminta penjelasan dari pihak yang lain *pihak yang disukai*. Ia membenarkan. Ia malah sempat berniat untuk keluar dari organisasi dan menghindar, demi komitmennya yang sudah lama, dan demi perasaan sahabatku tadi. “Profesional.” Satu kata itu aku sampaikan padanya, dan itu cukup manjur untuk tetap menahannya.
            Kembali ke sahabatku, ia bertanya apakah ia salah, ataukah ia benar, jika ia tiba-tiba mempunyai perasaan lebih kepada orang yang sudah berkomitmen dengan orang lain.
            Aku hanya memberikan perumpamaan. *Menuang air di gelas itu benar. Tapi, menuang air di gelas yang sudah penuh itu kurang tepat*.
            Perasaan itu fitrah, dan tidak bisa disalahkan. Hanya penempatannya yang seringkali kurang tepat, jadinya menyayat, dan seolah-olah terlihat salah. Ia, dengan kedewasaannya tentu faham dengan kalimat-kalimatku.
            Esoknya, ketika aku bertemu, mereka dengan sempurna menyembunyikan ‘kisah’ mereka. Akupun bersikap senormal mungkin, hanya kadang aku suka iseng, melontarkan godaan dan membuat tawa kami terdengar renyah.
Semuanya normal, bahkan lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillaah.
***
            Begitulah, kini mereka berdua baik-baik saja. Menjadi semakin dewasa dengan pemahaman yang lebih dan perasaan yang relative stabil itu menyenangkan. Semoga semuanya lebih baik lagi mendatang, dan semoga tidak ada lagi kecanggungan, keluh kesah, dan airmata lagi diantara para sahabatku. Terimakasih sahabat tersayang, atas izin untuk membagi kisah  ini, semoga kau suka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar