Sahabat tersayang, izinkan
aku mengutarakan beberapa hal yang pernah kau tanyakan kepadaku, untuk kemudian
menjadi pelajaran semua yang membaca ini. Tidak akan ada yang tahu siapa kau,
tentu saja kecuali Tuhan, aku, dan dirimu sendiri.
Kisah
ini dimulai…
Malam
itu langit murung, mungkin semurung hati sahabatku. Siang tadi, wajahnya tak
secerah biasanya. Ia juga sedkit bicara, dan sejujurnya dalam diamnya, ia
terlihat lebih keren dari biasanya. *hehe, tapi bukan masalah itu yang ingin
aku bagi disini*
Aku
sedang berduaan dengan laptopku ketika malam itu. Hapeku bergetar. Aku acuhkan
saja. Urusanku dengan laptop belum selesai. Aku melanjutkan ceritaku,
merampungkannya, dan celingukan mencari hape. *aku pelupa, kalau sedang di
asrama dengan teman-teman, biasanya aku meminta tolong mereka untuk missed call
hapeku, hehe*
Kubuka
hapeku, 1 message received. Read. Ternyata dari sahabatku tadi. Empat
huruf, membentuk kata yang biasanya ia gunakan untuk memanggilku *Ucik*
dan emoticon :’( *cry*. Kubalas “Kenapa?” Dan ia bercerita panjang
lebar, tentang kemendungan hatinya.
Akan
kuceritakan secara singkat…
Sahabatku
tadi, menyukai seseorang yang sudah memiliki komitmen dengan orang lain. Ia
tahu benar tentang komitmen itu. Sahabatku dan orang yang ia sukai sudah
berteman lama, bahkan menjadi rekan kerja dalam satu divisi di suatu
organisasi. Menurutku, ini bisa dibilang cinlok *cinta lokasi* kayak yang ada
di filem-filem atau di novel remaja yang kisaran halamannya cuma sampe 200-an.
Aku
belum bisa memberi solusi apa-apa saat itu. Aku lantas meminta penjelasan dari
pihak yang lain *pihak yang disukai*. Ia membenarkan. Ia malah sempat berniat
untuk keluar dari organisasi dan menghindar, demi komitmennya yang sudah lama,
dan demi perasaan sahabatku tadi. “Profesional.” Satu kata itu aku sampaikan
padanya, dan itu cukup manjur untuk tetap menahannya.
Kembali
ke sahabatku, ia bertanya apakah ia salah, ataukah ia benar, jika ia tiba-tiba
mempunyai perasaan lebih kepada orang yang sudah berkomitmen dengan orang lain.
Aku
hanya memberikan perumpamaan. *Menuang air di gelas itu benar. Tapi, menuang
air di gelas yang sudah penuh itu kurang tepat*.
Perasaan itu fitrah, dan tidak bisa disalahkan. Hanya
penempatannya yang seringkali kurang tepat, jadinya menyayat, dan seolah-olah
terlihat salah. Ia, dengan kedewasaannya tentu faham dengan kalimat-kalimatku.
Esoknya,
ketika aku bertemu, mereka dengan sempurna menyembunyikan ‘kisah’ mereka.
Akupun bersikap senormal mungkin, hanya kadang aku suka iseng, melontarkan
godaan dan membuat tawa kami terdengar renyah.
Semuanya normal, bahkan
lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillaah.
***
Begitulah,
kini mereka berdua baik-baik saja. Menjadi semakin dewasa dengan pemahaman yang
lebih dan perasaan yang relative stabil itu menyenangkan. Semoga semuanya lebih
baik lagi mendatang, dan semoga tidak ada lagi kecanggungan, keluh kesah, dan
airmata lagi diantara para sahabatku. Terimakasih sahabat tersayang, atas izin
untuk membagi kisah ini, semoga kau
suka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar