“Kau datang dan pergi oh begitu saja, semua ku terima, apa
adanya...”
Sekelumit
lagu itu tiba-tiba saja terdendang tepat saat bertanya bagaimana mengikhlaskan.
Akhir-akhir ini, aku merasa buruk. Sangat pelupa. Barang yang kutaruh beberapa
detik yang lalu, aku lupa begitu saja, padahal aku berusaha mengingatnya.
Anehnya, kenyataan hidup yang menyedihkan, walau aku berusaha kuat untuk
melupakannya, aku tetap saja mengingatnya. *curhat :p hihi
Lagi, kemarin sore, aku mendengar cerita dari adekku di pondok yang baru, adek yang cantik, dan tegarnya luar biasa. Dia punya dua Ibu, bapaknya poligami. Aku tanya gimana perasaannya, dan dia bilang awalnya sakitnya bukan main, tapi dia punya Bunda yang sangat kuat, sangat tegar, sangat ikhlas. "Nak, Ayah itu milik Allaah, Bunda dan kamu juga milik Allaah, jadi Bunda nggak boleh memaksakan kehendak Bunda supaya Ayah jadi milik Bunda seutuhnya. Nggak akan pernah bisa." Dan kata-kata itu merasuk ke relung hati adekku itu. Perlahan-lahan, ia menerima kehadiran Ibu keduanya yang ia panggil Umi.
Dan aku ingin merasakan keikhlasan yang demikian itu. Bukan berarti aku ingin dimadu oleh suamiku nanti, buka itu. Penerimaan dan kesadaran bahwa segala hal ialah milik Allaah dan Ia yang berhak untuk mengatur apa yang menjadi kepunyaanNya. Itu yang ingin aku miliki.
Beberapa waktu belakangan, aku sering kehilangan sesuatu. Barang-barang yang sebenarnya bisa aku beli lagi. Lebih bagus dari sebelumnya. Tapi ketika kehilangan, aku pasti marah-marah, bertanya-tanya, badmood, pokoknya aku melakukan hal-hal yang mencerminkan ketidakterimaan. Walau hanya setengah jam biasanya, tapi kan tetap saja.
Ada banyak kejadian yang dialami oleh orang lain yang lebih buruk daripada itu, sekadar kehilangan baju, kacamata, atau rok, dan mereka saja ikhlas. Bahkan ada yang rela berbagi hati dengan orang lain demi rasa cintanya kepada belahan jiwanya, dan mereka bahagia, karena mereka ikhlas. Tapi aku bagaimana? Menggerutu, berdiam diri, mengingat kenangan benada-benda yang telah hilang itu. Dimana letak keikhlasanku?
30 menit sebelum aku tersenyum menerima, aku terlebih dahulu meratapi kehilangan, mengingat kenangan dari barang-barang yang hilang, menangis bahkan. Lalu baru bilang ke diriku kalau aku bisa beli yang baru, yang lebih bagus, yang lebih nyaman, dan berjanji akan merawatnya dengan lebih baik, tidak pelupa, tidak ceroboh, seperti yang dikatakan Ibu. Begitulah.
Titik keikhlasan itu ketika akhirnya aku rasakan ketika aku merasa tidak apa-apa lagi dengan hilangnya barang-barang itu, merasa baik-baik saja tanpa mereka, bisa move on dari apa yang telah hilang, dan memilih untuk melupakan yang hilang, menggantinya dengan yang baru yang semoga lebih baik. Begitulah. :)
Ikhlas sederhana yang aku maksud adalah, mengikhlaskan tiga barang bersejarah yang hilang akhir-akhir ini : Batik ma'had yang kata temen-temen bagus, kacamata yang dibeli bareng bapak, dan rok abu-abu peninggalan mbak2 mahad setahun yang lalu. Ikhlas ya Suci.. Nanti diganti sama Allaah yang lebih baik, cah ayu :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar