Sebuah kehadiran yang nyata, Di mana kita tidak sibuk sendiri dengan masa lalu maupun masa depan. Kita hadir hadir dan ada hanya untuk orang yang kita cintai.
Itu saja.
Sering kali, saat bertemu dengan orang yang kita cintai dan sayangi, secara fisik kita memang hadir dan ada bersama dengannya, tetapi pikiran kita tidak.
Kita bergelisah dengan apa yang telah terjadi. Entah pekerjaan yang belum selesai maupun khawatir dengan apa yang sudah direncanakan.
Kehadiran secara utuh : diri, tubuh, juga pikiran adalah hal terbaik yang bisa kita berikan kepada orang yang kita cintai dan sayangi.
Peluklah orang yang kita cintai dengan kesadaran penuh yang kita punya. Berdetik kemudian, ia akan seperti bunga yang mekar.
Kita hadir dan ada hanya untuk orang yang kita cintai.
Kutipan dari buku Sejenak Hening, Adjie Silarus. Kalimat yang indah yang mengingatkan sekaligus menyentil sekeping hati saya dengan halus namun dalam. Ibu, bapak, keluarga, sahabat, engkau, semuanya terngiang-ngiang di pikiranku.
Tekadku, akan kuhadirkan aku kepadamu, dengan aku yang utuh, tanpa masa lalu dan masa depanku. Hanya sebuah kehadiran di masa sekarang, antara aku, dan orang-orang terkasih.
Demi masa depan yang telah kulewati bersama segenap orang-orang yang masih berada dalam masa sekarangku, serta demi masa depan yang akan kuhabiskan dengan orang-orang yang kutemui dalam masa sekarangku.
Untukmu, aku ingin berkata banyak maaf. Sebuah kehadiranku seringkali membawa pikiran lain yang berusaha kau terka. Yang berbumbu kenangan masa lalu, dan terkadang kekhawatiran masa depan. Tolong beri aku kesempatan untuk terus di sampingmu, berdampingan denganmu, dan aku akan melaksanakan tekadku, Mas.
Bismillaah, Sabtu yang indah. ~
*Aku yang menyesal hanya menatapmu sebentar sekali, Fauziyah Suci Nurani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar