Let us find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart ~

Rabu, 01 April 2015

Jangan Panggil Aku Begitu Lagi

Pada sebuah bangku kayu
Kisah pecah
Berantah
Tapi aku tak kehilangan satupun kepingan pun

Tanya saja padaku
Apa yang kita lalui saat remaja dulu
Hujan-hujan saat senja, berlari dari teras ke teras
Bermain bola basket di bawah keranjang

Aku yakin kau tidak ingat
Sobekan kertas yang kukumpulkan hanya karena kau yang menyobeknya
Persis seperti kisah kita
Walau berkeping, segmennya tidak ada yang terlewatkan

Aku masih bisa merangkainya, utuh penuh

Hai, kau
Kau katakan akan menemuiku kan?
Atau kau lupa
Ah, kau selalu melupakan hal-hal penting
Jangan-jangan, kau juga lupa aku?
Silahkan saja
Toh, aku tidak akan melupakanmu

Hei..
Jika kau masih saja sering lupa
Kusarankan untuk menyusuri kisah kita
Yang mati suri ketika kita berusaha meraih mimpi
Dan yang terakhir terjadi
Bukankah kau sudah memutuskan dan kemudian aku menyepakati?
Jadi, kuingatkan kau,
Jangan panggil aku begitu lagi

Pahami ini,
Bukankah kau sudah memutuskan dan kemudian aku menyepakati?
Jadi, kuingatkan kau,
Jangan panggil aku begitu lagi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar