Satu sisi berkata
Tetaplah, bertahanlah, bukankah kau sudah melakukannya bertahun-tahun. Bahagia itu pasti datang kalau kau terus menanti.
Sisi lain berkata
Hey. Kau mau hidup seperti ini terus? Tenggelam dalam penantian. Terombang-ambing dalam ketidakpastian. Bahagia bukan datang saat kau terus menanti, tapi disaat kau menjemputnya.
Satu sisi berkata
Buat apa susah-susah menjemput jika dengan menanti bahagia itu akan datang?
Sisi lain berkata
Akan datang? Kapan? Benarkah akan datang? Bukankah penantian itu seperti ombak, atau hujan dimusim kemarau?
Satu sisi berkata
Suatu saat, pasti. Penantian itu bukan semata tentang datang atau tidak, tapi percaya dan setia.
Sisi lain berkata
Aih, apa kamu benar-benar sisi hati yang selama ini aku kenal? Bukankah sebelumnya kau teguh dengan cita-citamu, dengan impianku. Kau bukankah yang dulu mengajariku menjemput asa yang meski harus dengan susah payah baru kudapat? Kenapa kini berubah? Kau dulu sepemahaman denganku. Tidak akan membuang waktu untuk hal-hal yang justeru mengekangmu.
Satu sisi berkata
Ketika empunya.ku kecil dulu, aku selalu menganggap impian itu dekat,terang, gemilang, dan selalu membangkitkanku. Tapi, aku terus jatuh karena aku berlari mengejarnya, bermaksud menjemputnya. Aku bahkan pernah sakit dan babak belur karenanya. karena orang-orang mengataiku terlalu berhasrat untuk maju. Ah, akupun akhirnya sangat lelah. Lebih baik seperti ini saja. Menunggu dengan kesetiaan dan kesabaran yang utuh.
Sisi lain berkata
Hay. Hukum alam selalu begitu. Semakin banyak yang kau lewati, semakin kencang kau berlari, rintangan akan semakin banyak, akan semakn sulit. Tapi kau akan semakin kuat, kau akan semakin cerdas. Tidakkah kau ingin menjadi sosok yang ebih baik. Jemputlah bahagiamu, ciptakan dengan caramu, tanpa menunggu.
Sisi hati hanya diam, membenarkan apa yang dikatakan sisi yang lainnya. Ia merasa salah, dan berusaha berubah. Hingga akhirnya ia berkata : aku akan melakukannya, menjemput bahagia yang aku ciptakan dengan caraku.
Hatipun kini menjadi utuh, tidak lagi saling menikam, tidak lagi saling menyalahkan. Damai, tentram, dan sejalan.
*tulisan ini saya tulis dengan agak ngawur, tapi semoga bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar