Aku
melambatkan laju motorku setiap melewati jalan ini. Jalan berlubang di depan
deretan gedung kecamatan. Sebuah gedung putih, berlabel Gedung Juang ’45. Haru
menyeruak begitu saja, meski tak sampai satu menit aku melihatnya.
***
Seorang
anak perempuan. Rambutnya sepunggung, dikepang dua, pita merah di
ujungnya,matanya bulat. Imut seperti boneka. Sayang, ia pemalu. Sejak kecil, ia
hanya mau bersama bapak ibunya. Hingga seorang guru TK dengan welas asihnya
membuat anak itu membuka dirinya.
3
tahun ia mulai sekolah. Tidak ingat siapa yang pertama menjadi temannya. Dua
tahun setelah itu, saat ia belum mengerti apa itu kesempatan, ia telah
mendapatkannya. Ibu Mustiroh. Ibu guru tersabar yang pernah ia temuilah yang
pertama kali memberikannya. Anak pendiam yang tidak seaktif teman-temannya,
yang takut pada teman-temannya didelegasikan untuk mengikuti sebuah lomba
tingkat kecamatan. Lomba pertama kalinya, pada usia 5 tahun.
Ia
tidak benar-benar mengerti apa itu lomba. Ia hanya diminta menghafal dua surat
Al-Qur’an, surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Setiap habis maghrib, dua minggu
sebelum hari H, bapaknya selalu
membimbingnya. Ia seringkali tidak mau, asik dengan pensil warna dan
gambar-gambarnya yang tidak jelas, atau sibuk bermain bersama adiknya, main
mobil-mobilan. “Bapak punya tic tic (snack zaman dulu) nih buat yang mau
ngaji…” cara sang bapak membujuknya. Ia luluh. Ngaji barang dua tiga ayat, dan
kemudian menangis merajuk minta tic tic yang diiming-imingkan. Berhenti
menangis setelah sepersekian detik tic-tic ada ditangannya. Dan beberapa menit
kemudian tic-tic habis dimakan bersama adiknya. Berbagi.
Malam-malam
selalu begitu. Ngaji, menangis, dan snack. Selama satu minggu. Di minggu
berikutnya, tidak ada lagi tangis dan tidak ada lagi ngaji sehabis maghrib.
Terlalu banyak yang mengganggu pada waktu itu. Apalagi adiknya yang giginya
sudah tajam, bak drakula saja ia menggigit lengan mbaknya.
***
Dini
hari, 03.00. Anak itu sedang asik duduk di meja super besar dengan buku yang
banyak, tebal. Buku tentang kurikulum, matematika, dan majalah rindang yang
bertumpuk. Tidak ada majalah bobo atau majalah ceria, majalah untuk anak usia 5
tahun. Meja itu adalah meja kerja mbah kakung, seorang guru matematika madrasah
ibtidaiyah. Anak itu setiap dini hari, bahkan ketika bapaknya belum bangun, ia
sudah membaca apa saja. Membaca buku yang ia tidak faham isinya. Jangankan
isinya, kata-katanyapun ia belum mengerti. Ia hanya sedang senang mengeja,
membaca. Mbah Kakungnya tahu tentang itu.
Pada
dini hari itulah, tanpa krayon, pensil warna, dan sang adik, Mbah Kakung
mengajarinya mengaji. Tak jarang, hanya membacakan untuknya, dan anak itu hafal
begitu saja. Surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq sudah beres.
Hari
H. Sepertinya hari Kamis. Anak pendiam dan takut kepada teman-temannya itu
pergi bersama Ibu Mustiroh ke tempat yang jauh dari sekolah. Saat itu rasanya
jauh sekali bahkan. Tempat yang tidak asing, tapi juga sepertinya pernah ia lintasi.
Mungkin, setiap jalan-jalan sore dengan Mbah Kakung. Gedung Juang ’45. Anak itu
mengeja.
Ia
dan Bu Mustiroh masuk dan duduk di bangku yang sudah disiapkan oleh panitia.
Saat itu, ia memakai seragam putih hijau, dan jilbab putih baru. Baru dibelikan
oleh Mbah Putri kemarin lusa. Seperti biasanya, anak itu hanya diam. Duduk di tempat
dengan sangat tenang. “Nduk, nanti kamu ngaji ya disana. Nanti gantian sama
temannya.” Ibu Mustiroh mengatakan hal itu sembari menunjuk sebuah panggung
kecil dengan stand mic yang pendek, namun cukup tinggi untuknya. Teman?
Tidak ada teman saya Ibu disini. Pikirnya saat itu.
Beberapa
waktu sebelum lomba, Ibu Mustiroh banyak bertanya padanya. “Mau pipis dulu?”
aku menggeleng. “Mau makan roti? Minum susu?” aku menggeleng. “Maunya apa
Nduk?” Ibu Mustiroh menawari. “Tic tic.” katanya pendek. Mbah Putri tadi pagi
memasukkan tiga bungkus tic tic di tasnya. Seperti biasa, dalam hitungan menit,
tic tic pun habis ia makan.
Waktu
terus berjalan maju. Saatnya perlombaan dimulai. Satu persatu ‘teman’ dipanggil
oleh panitia, maju ke depan. Ada yang hanya diam, tersendat ditengah-tengah
ayat, ada yang menangis, dan ada juga yang lancar melafalkan ayat demi ayat. Anak itu? Ia
melafalkan surat yang memang sudah dihafalnya, ayat per ayat. Berdiri tegak
sampai akhir, lancar, namun suaranya sangat lirih. Hampir tidak terdengar. Ia
masih terlalu kecil untuk belajar dari peserta sebelumnya yang melafalkan kedua
surat itu dengan lantang.
Ia
turun dari panggung kecil dengan ekspresi datar. Menuju gurunya berada, dan
tersenyum, membalas senyum gurunya yang menyambutnya. Seperti ekspresi kelegaan
setelah berlaga. Dan makan tic tic lagi. Memainkan jilbab barunya, dan mulai
berbicara pada ’teman’ disebelahnya. Seorang anak laki-laki yang tadi lantang
membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Sebenarnya anak lelaki itulah yang terlebih
dahulu mengajaknya bicara. Anak lelaki yang sayangnya ia tidak tahu namanya.
Tapi ia tahu kalau ia harus membagi tic ticnya dengan anak lelaki itu.
Kebiasaan berbagi dengan adiknya.
Siang.
Gedung Juang ’45 masih riuh dengan kami, anak TK. Tapi tentu saja anak itu
tidak ikut andil dalam keriuhan. Ia masih duduk diam dengan sebungkus tic tic
dan ‘teman’ barunya. Seorang wanita berkaca mata naik ke panggung. Tangannya
membawa secarik kertas. Kertas pengumuman. Pengumuman juara lomba manghafal
surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq tingkat kecamatan.Juara tiga dumumkan. Bukan
aku. Kata hati anak itu. Juara dua.Bukan juga. Juara satu, temannya
juara satu. Teman yang ia bagi tic tic, yang duduk disebelahnya. Anak lelaki
itu maju, mengambil piala. Ternyata tahun lalu ia juga juara. Ibu guru
mengajaknya memberi selamat kepada anak lelaki itu. Yang sayangnya ia tidak
tahu namanya. Ucapan selamat pertama darinya. Ternyata, seperti itulah seorang
pemenang. Tersenyum bangga di depan banyak orang.
Anak
perempuan itu pulang, tanpa kecewa. Bagaimanapun ia sudah ngaji di panggung
yang ditunjuk ibu guru dan tidak menangis. Yah, kesempatan pertama, kekalahan
pertama.
Setelah
sekian lama, seiring tahun yang berganti dan usia yang bertambah, anak itupun
tumbuh. Dengan tempaan lomba demi lomba yang ia ikuti setelah lomba menghafal
surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Dengan menang kalah yang pernah ia rasakan.
Anak itu kini tidak lagi berkepang dua. Anak itu
adalah aku, yang selalu merasa terharu setiap melewati Gedung Juang ’45 yang
kini sudah agak berbeda, sudah direnovasi meski tetap bercat putih. Anak itu,
yang tidak berani bicara di depan umum, yang takut dengan teman-temannya, yang
memilih banyak diam, adalah aku. Gedung Juang ’45, lima belas tahun yang lalu.
Aku tidak akan pernah lupa, kesempatan pertama itu.
*Bilik Permai
16 April 2014 2:43 a.m.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar