Let us find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart ~

Rabu, 06 Agustus 2014

GEDUNG JUANG ‘45

            Aku melambatkan laju motorku setiap melewati jalan ini. Jalan berlubang di depan deretan gedung kecamatan. Sebuah gedung putih, berlabel Gedung Juang ’45. Haru menyeruak begitu saja, meski tak sampai satu menit aku melihatnya.
***
            Seorang anak perempuan. Rambutnya sepunggung, dikepang dua, pita merah di ujungnya,matanya bulat. Imut seperti boneka. Sayang, ia pemalu. Sejak kecil, ia hanya mau bersama bapak ibunya. Hingga seorang guru TK dengan welas asihnya membuat anak itu membuka dirinya.
            3 tahun ia mulai sekolah. Tidak ingat siapa yang pertama menjadi temannya. Dua tahun setelah itu, saat ia belum mengerti apa itu kesempatan, ia telah mendapatkannya. Ibu Mustiroh. Ibu guru tersabar yang pernah ia temuilah yang pertama kali memberikannya. Anak pendiam yang tidak seaktif teman-temannya, yang takut pada teman-temannya didelegasikan untuk mengikuti sebuah lomba tingkat kecamatan. Lomba pertama kalinya, pada usia 5 tahun.
            Ia tidak benar-benar mengerti apa itu lomba. Ia hanya diminta menghafal dua surat Al-Qur’an, surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Setiap habis maghrib, dua minggu sebelum hari H,  bapaknya selalu membimbingnya. Ia seringkali tidak mau, asik dengan pensil warna dan gambar-gambarnya yang tidak jelas, atau sibuk bermain bersama adiknya, main mobil-mobilan. “Bapak punya tic tic (snack zaman dulu) nih buat yang mau ngaji…” cara sang bapak membujuknya. Ia luluh. Ngaji barang dua tiga ayat, dan kemudian menangis merajuk minta tic tic yang diiming-imingkan. Berhenti menangis setelah sepersekian detik tic-tic ada ditangannya. Dan beberapa menit kemudian tic-tic habis dimakan bersama adiknya. Berbagi.
            Malam-malam selalu begitu. Ngaji, menangis, dan snack. Selama satu minggu. Di minggu berikutnya, tidak ada lagi tangis dan tidak ada lagi ngaji sehabis maghrib. Terlalu banyak yang mengganggu pada waktu itu. Apalagi adiknya yang giginya sudah tajam, bak drakula saja ia menggigit lengan mbaknya.
***
            Dini hari, 03.00. Anak itu sedang asik duduk di meja super besar dengan buku yang banyak, tebal. Buku tentang kurikulum, matematika, dan majalah rindang yang bertumpuk. Tidak ada majalah bobo atau majalah ceria, majalah untuk anak usia 5 tahun. Meja itu adalah meja kerja mbah kakung, seorang guru matematika madrasah ibtidaiyah. Anak itu setiap dini hari, bahkan ketika bapaknya belum bangun, ia sudah membaca apa saja. Membaca buku yang ia tidak faham isinya. Jangankan isinya, kata-katanyapun ia belum mengerti. Ia hanya sedang senang mengeja, membaca. Mbah Kakungnya tahu tentang itu.
            Pada dini hari itulah, tanpa krayon, pensil warna, dan sang adik, Mbah Kakung mengajarinya mengaji. Tak jarang, hanya membacakan untuknya, dan anak itu hafal begitu saja. Surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq sudah beres.
            Hari H. Sepertinya hari Kamis. Anak pendiam dan takut kepada teman-temannya itu pergi bersama Ibu Mustiroh ke tempat yang jauh dari sekolah. Saat itu rasanya jauh sekali bahkan. Tempat yang tidak asing, tapi juga sepertinya pernah ia lintasi. Mungkin, setiap jalan-jalan sore dengan Mbah Kakung. Gedung Juang ’45. Anak itu mengeja.
            Ia dan Bu Mustiroh masuk dan duduk di bangku yang sudah disiapkan oleh panitia. Saat itu, ia memakai seragam putih hijau, dan jilbab putih baru. Baru dibelikan oleh Mbah Putri kemarin lusa. Seperti biasanya, anak itu hanya diam. Duduk di tempat dengan sangat tenang. “Nduk, nanti kamu ngaji ya disana. Nanti gantian sama temannya.” Ibu Mustiroh mengatakan hal itu sembari menunjuk sebuah panggung kecil dengan stand mic yang pendek, namun cukup tinggi untuknya. Teman? Tidak ada teman saya Ibu disini. Pikirnya saat itu.
            Beberapa waktu sebelum lomba, Ibu Mustiroh banyak bertanya padanya. “Mau pipis dulu?” aku menggeleng. “Mau makan roti? Minum susu?” aku menggeleng. “Maunya apa Nduk?” Ibu Mustiroh menawari. “Tic tic.” katanya pendek. Mbah Putri tadi pagi memasukkan tiga bungkus tic tic di tasnya. Seperti biasa, dalam hitungan menit, tic tic pun habis ia makan.
            Waktu terus berjalan maju. Saatnya perlombaan dimulai. Satu persatu ‘teman’ dipanggil oleh panitia, maju ke depan. Ada yang hanya diam, tersendat ditengah-tengah ayat, ada yang menangis, dan ada juga yang lancar  melafalkan ayat demi ayat. Anak itu? Ia melafalkan surat yang memang sudah dihafalnya, ayat per ayat. Berdiri tegak sampai akhir, lancar, namun suaranya sangat lirih. Hampir tidak terdengar. Ia masih terlalu kecil untuk belajar dari peserta sebelumnya yang melafalkan kedua surat itu dengan lantang.
            Ia turun dari panggung kecil dengan ekspresi datar. Menuju gurunya berada, dan tersenyum, membalas senyum gurunya yang menyambutnya. Seperti ekspresi kelegaan setelah berlaga. Dan makan tic tic lagi. Memainkan jilbab barunya, dan mulai berbicara pada ’teman’ disebelahnya. Seorang anak laki-laki yang tadi lantang membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Sebenarnya anak lelaki itulah yang terlebih dahulu mengajaknya bicara. Anak lelaki yang sayangnya ia tidak tahu namanya. Tapi ia tahu kalau ia harus membagi tic ticnya dengan anak lelaki itu. Kebiasaan berbagi dengan adiknya.
            Siang. Gedung Juang ’45 masih riuh dengan kami, anak TK. Tapi tentu saja anak itu tidak ikut andil dalam keriuhan. Ia masih duduk diam dengan sebungkus tic tic dan ‘teman’ barunya. Seorang wanita berkaca mata naik ke panggung. Tangannya membawa secarik kertas. Kertas pengumuman. Pengumuman juara lomba manghafal surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq tingkat kecamatan.Juara tiga dumumkan. Bukan aku. Kata hati anak itu. Juara dua.Bukan juga. Juara satu, temannya juara satu. Teman yang ia bagi tic tic, yang duduk disebelahnya. Anak lelaki itu maju, mengambil piala. Ternyata tahun lalu ia juga juara. Ibu guru mengajaknya memberi selamat kepada anak lelaki itu. Yang sayangnya ia tidak tahu namanya. Ucapan selamat pertama darinya. Ternyata, seperti itulah seorang pemenang. Tersenyum bangga di depan banyak orang.
            Anak perempuan itu pulang, tanpa kecewa. Bagaimanapun ia sudah ngaji di panggung yang ditunjuk ibu guru dan tidak menangis. Yah, kesempatan pertama, kekalahan pertama.
            Setelah sekian lama, seiring tahun yang berganti dan usia yang bertambah, anak itupun tumbuh. Dengan tempaan lomba demi lomba yang ia ikuti setelah lomba menghafal surat Al-Ikhlas dan Al-Falaq. Dengan menang kalah yang pernah ia rasakan.
Anak itu kini tidak lagi berkepang dua. Anak itu adalah aku, yang selalu merasa terharu setiap melewati Gedung Juang ’45 yang kini sudah agak berbeda, sudah direnovasi meski tetap bercat putih. Anak itu, yang tidak berani bicara di depan umum, yang takut dengan teman-temannya, yang memilih banyak diam, adalah aku. Gedung Juang ’45, lima belas tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah lupa, kesempatan pertama itu.
*Bilik Permai

16 April 2014 2:43 a.m.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar