Let us find the way, close our eyes, listen closely, and attend with our heart ~

Rabu, 06 Agustus 2014

Kisah Lembaran Usang

Aku menemukan kotak kayu coklat di rumah itu. Rumah yang aku tinggali semasa kecilku. Aku membukanya, dan aku menemukan lembaran lusuh yang termakan usia. Kubuka satu per satu lembaran itu, Agustus 2012, itu sudah 25 tahun yang lalu, jauh sebelum aku terlahir di dunia ini. Wisnu? Siapakah Wisnu? Dan kenapa ada nama Laras?
***
Agustus 2012
#Wisnu
Aku tak bisa memberikan kejelasan pada Laras. Aku tidak bisa memutuskan takdirku sendiri. Selalu ada yang Maha Menakdirkan dalam setiap keputusanku. Biarkan orang lain menanggapku salah satu dari fatalis yang masih hidup di zaman semodern ini. Aku hanya bisa memberinya harapan – semacam mengalirinya air kehidupan, entah sampai kapan.
***
            Hari ini, Laras kembali meminta penjelasan atas sebatas harapan yang aku berikan padanya. Atas kalimat-kalimat retoris yang justru membuatnya selalu sesak. Aku sedang sendiri saat itu. Di kamarku d asrama kampus yang jaraknya sudah ratusan kilo dari tempat Laras berada sekarang. SMS masuk. Di layar ponselku, nama Laras tertera. Aku bahagia, meski tak dapat ku ukur seberapa bahagianya aku saat itu.
            “Mas, sibukkah?” pertanyaan yang sudah kuhafal, ini caranya untuk meminta sedikit waktuku.
            “Nggak, kenapa?”
            “Something important. I miss you so crazy..” Aku tidak membalas, kalimat laras yang tidak diakhiri tanda titik pertanda ia belum menyelesaikan kalimatnya. Aku menanti akhir dari kalimat yang menggantung itu.
            “Tapi Mas, akhir-akhir ini aku mikir, apa ya Mas Wisnu punya perasaan yang sama? Apa Mas Wisnu serindu aku rindu sama Mas? Aku butuh status Mas, butuh penegasan atas hubungan kita. Butuh kata-kata kongkrit tentang rasa rindu Mas sama aku. Selama ini, aku sesak sekali harus diam begitu lama. Anggap ini sebagai gugatan. Ya, aku menggugat rasamu Mas.”
            Aku tertohok. Laras yang selama ini diam dan selalu bilang dia baik-baik saja, yang selalu bilang akan menungguku sampai akhir, yang tidak akan akan mempersoalkan ketiadaanku di sisinya, ternyata dia sakit, ternyata sabarnya berbatas, ternyata ia membutuhkan seseorang, yang bisa disisinya, bukan aku yang begitu jauh disini. Aku membaca sms itu, bisa membayangkan ekspresinya. Ia menangis saat ini. Sendiri, mungkin di sudut kamar biru langitnya, mungkin juga di bangku sudut taman, tempat kami mencipta beribu kenangan semasa muda. Ah, pundakku terasa gatal. Aku ingin menopang segala sedih yang aku sebabkan di relung hatinya. Aku juga rapuh, ingin sekali mengenyahkan fatalisme yang celakanya sudah mendarah daging ini. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Hanya mampu kembali mencekiknya dengan kalimat menggantungku, menyerahkan segala keputusan padanya.
            “Jika memang yang terbaik bagimu adalah tidak lagi menungguku, aku akan membebaskanmu, silahkan melakukan apapun yang kau mau disana, bersama siapapun yang kau suka. Tapi, jika menunggu adalah hal yang baik bagimu, maka tunggulah, meski aku tidak tahu kapan tepatnya aku akan datang.” Jawabku.
***
Agustus  2012
#Laras
Seberapa bahagia ia disana, Tuhan? Selalu aku ingin menjadi orang yang pertama mendengar ceritanya hari demi hari. Aku ingin memberikan senyum pertamaku padanya setiap pagi. Aku ingin ia mengerti  bahwa aku mencintainya penuh, bulat. Tapi, aku tidak punya kesempatan lagi setelah perpisahan dua tahun yang lalu. Kami memutuskan melangkah di jalan yang berbeda, memutuskan dengan hati yang tetap sama.
***
            SMS terakhirku sudah terkirim, dan balasannya membuat perasaanku antah berantah. Aku memaku di kamarku, dan tembok bisu yang menjadi tempat curhatku. Entah, kebebasan ini apakah membuatku bahagia, atau membuatku terluka. Yang jelas, airmataku mengalir tambah deras, airmata yang aku tidak tau ekspresi apa. Nafasku semakin sesak, semakin tercekat.
            Lama aku melamun, mendefinisikan kata-kata yang aku telan dengan hatiku. Airmataku sudah menyatu dengan udara. Aku gagal membentengi hatiku dengan sugesti kekuatan yang aku buat sendiri. Aku berjanji, ini adalah airmata kekuatan, bukan airmata lemah dan rapuh. Aku hanya butuh cara untuk menguatkan sekeping hati ini, dan semuanya akan baik-baik saja, bukan semuanya akan lebih baik dari sebelumnya.
            Aku jadikan tanganku menjadi sapu tangan. Airmataku  kering, aku bangkit, dan aku memutuskan untuk menjadi  Laras yang baru, yang bebas lepas. Yang terbang tinggi, yang lebih bahagia. Wisnu sudah menyadarkanku, ditinggalkan bukan berarti aku harus terus berkutat pada kehampaan, kehilangan, dan rasa sedih yang bergumpal-gumpal. Jika aku merelakannya dengan kerelaan yang utuh, Tuhan akan menggantikannya dengan orang-orang lain yang lebih baik, lebih tulus, dan lebih membahagiakan, serta lebih melengkapi. Orang-orang yang akan meneribtkan senyum secerah mentari jam tujuh pagi. Semoga aku segera bertemu dengan orang-orang yang dijanjikan Tuhan itu. Semoga seperti itu.
***
Agustus 2014
#Wisnu
            Laras bahagia. Kuharap begitu. Waktu begitu cepat berlalu. Jalanku pada rel kehidupan ini juga cepat sekali. Kemarin, sepertinya aku baru saja mulai mencintainya. Kemarin, sepertinya aku baru saja melenakannya dengan janji-janji yang entah kapan akan kutepati. Tapi, kini, hanya dengan satu dua helaan nafas, aku telah membiarkannya pergi. Membiarkan ia terbang dan menemukan persinggahan hati yang baru, yang bukan aku. Mengapa aku merasa sesak? Bukankah harusnya aku bahagia? Dengan begini tidak akan ada lagi wanita yang menanyakan seberapa serius aku dengannya. Tidak ada lagi wanita yang menggugat perasaanku terhadapnya. Tidak akan ada lagi.
            Laras bahagia. Aku meyakinkan hatiku lagi. Kini, aku tidak harus memikirkan perasaannya lagi. Aku bisa lebih focus berbisnis dan mengejar ambisiku.
***
Agustus 2014
#Laras
            Tidak mudah menghapus bayangan Wisnu. Butuh waktu dua tahun sebelum akhirnya aku memutuskan pinangan Adit. Aku akan bahagia, Wisnu. Terimakasih untuk tidak pernah lagi datang selama 2 tahun ini. Aku benar-benar bahagia. Aku menemukan apa yang selama ini aku cari. Sesuatu yang tak pernah aku temukan darimu walau aku teguhkan hatiku untuk menantinya. Kepastian. Sesuatu yang aku butuhkan untuk hidup.
            Kepastian. Dari seseorang yang aku mencintai aku, dan seseorang yang bersedia aku cintai. Adit. Seseorang itu adalah Adit, bukan yang lain. Selamat tinggal Wisnu, selamat berbahagia dengan hidupmu.
***
            Aku mencoba merangkai potongan-potongan kisah bertanggal itu. Kisah yang sudah amat lama.  Laras adalah nama ibuku. Jangan-jangan, Wisnu adalah orang yang pernah ibu ceritakan. Cinta pertamanya, dan Adit adalah nama ayahku. Ya, petuah ibu untuk aku mengunjungi rumah ini dan menemukan kotak kayu dengan lembaran kisah masa lalu adalah caranya untuk membuktikan kata-katanya dulu. “Kepastian bisa mengalahkan segalanya, cita pertama sekalipun akan kalah.”
            Ibu, Ayah, aku ingin tahu lebih banyak tentang kisah itu. Kisah setelah tidak ada Wisnu dalam hidup kalian. Kisah yang hanya ada Laras dan Adit. Dua insan yang saling mencintai hingga Tuhan mengambil ruh keduanya. Ceritakan padaku, Ibu.. ceriakan padaku walau lewat mimpi.


*Giling-Pabelan, 3 Agustus 2014 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar