Seperti halnya gletser, yang akan meleleh
hanya dengan sengatan mentari yang bermil-mil jauhnya
Kubiarkan rasa yang menembus ruang dan waktu
ini meluruh semaunya dia akan meluruhkan dirinya
Seharusnya dari awal, sangat awal sebelum
semuanya terlanjur, aku tidak membiarkannya
Imajinasi yang berkembang menjadi harapan, dan
harapan yang menjelma menjadi impian, namun semu
Sekali pungguk tetap saja pungguk, yang hanya
mampu merindukan bulan, hanya merindukan, tidak lebih
Aku meliuk-liukkan pikiranku jauh,
memberadakan dirimu yang bahkan tidak dapat disampingku
Sepertinya, aku berubah menjadi orang lain,
menjadi sosokku yang bukan lagi aku
Tak kutemukan lagi pulpen dan lembaran kertas
yang menyaksikan tawa kehidupanku
Aku merapuh, aku melayu, sedih sendu merayu
melapukkanku
Padahal kerentaan usiaku takkan menuakan
rasaku
Namun, bertubi-tubi kau mengkroposkan rasa
yang sudah kupupuk banyak
Oh... sekarang hanya sedikit yang mengerak
disini, dan justru membuatku bingung
Ku kehilangan apa yang biasanya ada disini,
namun kurasa ini yang kuinginkan
Dibandingkan luka dan dera dusta yang kau
tujukan ke arahku menyayat beribu sembilu
Dengan luka yang bahkan sudah menginfeksi
jiwaku, aku tetap mencoba menjadikanmu yang terbaik
Namun, luka yang kucoba abaikan ini tiba-tiba
saja mengkronis, merembet ke ragaku, sedikit demi sedikit menggerogoti, sakiiit
Masih kusanggup-sanggupkan mempertahankan yang
sudah tertahan beberapa tahun ini, dan aku berhasil beberapa saat, mungkin
untuk beberapa saat mendatang aku masih sanggup meski aku atk yakin
Tapi entahlah, aku tak akan lagi mengolah rasa
ini lagi, semuanya kubiarkan teronggok, dan terolah semaunya sendiri, dengan
tangan yang Maha Mengolah Perasaan...
*ini saya tulis 14 Januari 2013
Entah apa yang saya rasakan saat menulisnya, Alhamdulillaahnya sekarang, ketika saya membacanya lagi, rasanya sudah tidak seperih dulu. :) Saya sudah sembuh ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar