Saya bernostalgia hari ini, nostalgia masa-masa pramuka, jadi bantara, ikut lintas alam padahal bukan pecinta alam, dan susur sungai plus menyusuri tanah yang didalamnya terkubur manusia pas ikut KPLA, juga saat-saat jalan berkilo-kilo dalam rangka survei tempat berbagai acara kepanduan. Dulu, hanya asik saja rasanya. Tanpa takut jatuh, takut kotor, dengan kostum yang tidak salah ; pakai celana training plus kaos oblong panjang.Bareng-bareng berbanyak, atau sepedaan sampai kakinya gempor, mampir warung beli es dan gorengan. Ah, asik pokoknya.
 |
| Ini waktu Chevent Track di UNNES |
|
Saya akan menceritakannya satu persatu. Itu sewaktu saya mengikuti chevent tracking, sebut saja lintas alam di UNNES, Gunung Pati dan sekitarnya. Diurutkan dari kiri, ada Anes, Mbak Nik, Kurnia, Aku, Afifah, Esti, Wahyu, Dayat, Aris. Kami jalan kaki sejauh 10 km, jalan menanjak, dan ketepaatan waktu mulai jalan sampai finish menjadi penilaian, sementara kami buta tentang ketepatan waktu, tapi ajaibnya setelah kami lihat di hasil penilaian, kami ternyata menempati urutan kedua. Menyenangkan sekali ^_^
Setiap ingat event ini, saya selalu ingat betapa licinnya batu sungai yang harus kami susuri. Berkali-kali hampir jatuh dan akhirnya benar-benar jatuh, dan kemudian bangkit lagi. Fiuh, benar-benar jatuh bangun.
 |
| susur sungai, bagian paling tidak terlupakan :) |
|
|
Beda lagi dengan masa-masa jadi bantara. Saya dan rekan-rekan sering sekali melakukan tinjau lapangan untuk berbagai kegiatan, membuat rute dan menetukan pos-pos untuk peserta kegiatan kepramukaan. Tidak jarang kami berjalan puluhan kilo, menyusuri sawah dan hutan karet, menerobos jalan atau memutari jalan, mencari rute yang asik, yang punya tantangan sekaligus pemandangan yang memanjakan mata.
 |
| Kemah Bhakti Gudep Wahid Hasyim Rohana Kudus 2011 |
|
Seingat saya terakhir kali saya ikut kegiatan out door seperti itu sekitar satu tahun yang lalu, saat mengikuti gema ITTAQO, sebuah UKM yang membidangi bahasa arab di kampus. Dan tadi siang sampai sore, saya kembali melakukan ekspedisi. Ekspedisi #demiITTAQO, begitulah saya menamainya.
Dimulai dari kampus, lalu ke sebuah desa di kabupaten semarang, kemudian menyusuri persawahan terasering yang bukan main. Sebenarnya biasa saja sih, tapi saya gara-gara pakai rok span, jadi rempong sekali.
 |
| Mbak Umi yang rempong dengan kostumnya yang salah, hihi |
Mendaki gunung lewati lembah, nanananana.. kami menyanyikan lagu itu di sela-sela perjalanan kami. Intermezzo yang menyenagkan. Lagi, sesuai dengan itu, saya harus lompat lagi. Hampir satu meter. Menurut saya itu tinggi. Hap. Saya melompat. Huft semuanya baik-baik saja. Sepertinya tiga kali saya melompat, sebelum akhirnya kami menemukan sungai yang jernih dengan bebatuan yang alhamdulillaah tidak licin. Keceh ria. Bagian favorit saya di ekspedisi ini ^_^
 |
| yuhuuuuuuu... airnya bening oh bening |
|
Sekitar setengah jam lebih sedikit kami main air plus mengabadikan moment ini dengan kamera, kamipun pulang. Jalan mendaki, langit mendung, dan hujan rintik turun beberapa saat sebelum kami sampai di tempat dimana motor parkir. Mendaki gunung lewati lembah, nananananan (^.^) lagu itu lagi. Setiap merasa ada view yang bagus, kami berhenti dan foto. Cekrik.
 |
| Perjalanan pulang, sawahnya itu lhooo (u,u) |
Sawahnya jangan sampai ketinggalan. Hijau sepanjang mata memandang. Ah, Allah benar-benar tiada tandingan. Semoga, perjuangan kami hari ini bermanfaat. Semangaaaaat (^.^)//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar