Di angkot jalur tiga sore ini. Seperti kemarin, saya pulang kerumah setelah seharian dengan rutinitas kampus yang selalu lebih menguras tenaga dan fikiran pada hari jumat. Angkot kali ini tidak terlalu sesak, bapak supirnya berbaik hati segera menjalankan angkot walau masih ada beberapa space di bangku angkot. Alhamdulillaah tidak desak-desakan :)
Angkot berjalan pelan, seperti biasanya. Jalan yang saya lewati tetap menghadirkan sensasi berkuda, jalan rusak. Tiba-tiba ibu yang ada di depan saya bertanya pada ibu-ibu yang ada tepat di samping saya. Saya tidak tahu siapa Ibu nama Ibu itu, jadi akan ada banyak Ibu dalam cerita ini.
"Bu, tanganya kenapa di perban?" tanya Ibu yang duduk di depan saya.
Lalu, Ibu yang berada di samping saya bercerita panjang lebar. "Tadi pagi aku buat mie. Niatnya mau pakai ayam, pas aku ngiris ayam tiba-tiba tanganku kepotong, langsung mrepet-mrepet *pingin pingsan* rasanya". Beliau bercerita, dengan senyum, seolah tidak terjadi apa-apa. Saya merinding, pertama karena melihat perban di ibu jari beliau, yang kedua karena membayangkan bagaimana kejadian tersebut terjadi.
Pisau dan daging ayam entah beliau jatuhkan ke arah yang beliau tidak tahu.Beliau lantas memanggil sang putri yang sepertinya masih SD dan putrinya berlari ke arah bapaknya yang sedang menjadi kuli bangunan di desa sebelah.
Ibu itupun dibawa ke puskesmas pabelan, tapi tidak bisa ditangani, beliaupun bersama suami dan dua anaknya, si sulung seorang laki-laki usia SMP atau SD akhir, dan putri yang lari-lari tadi bersama-sama ke RSU Salatiga dan pulang dengan duabelas jahitan di ibu jari sang Ibu yang tulus memasakkan anaknya, dan kembali saya berdesir hatinya ketika sang Ibu tanpa memedulikan jahitan yang ada di tangan beliau bilang "Nanti sore bakalan repot buat masak lagi".
Sungguh setiap Ibu selalu luar biasa, selalu iri melihat kebaikan seorang Ibu. Dan selalu rindu Ibu setiap melihat Ibu-ibu yang selalu tampak luar biasa.
Lagi, untuk kesekian kali saya bertakbir melihat keluarga ini, ketika turun dari angkot, sang suami dan anak laki-laki turun terlebih dahulu, ketika saya tanya kenapa tdak turun bareng-bareng saja, Ibu menjawab karena suami dan anaknya harus meneruskan kerja menjadi tukang bangunan disebuah rumah di desa tetangga, sementara Ibu harus pulang dan istitahat sebentar. Oh, keluarga sederhana ini benar-benar membuat saya terharu.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan? Alhamdulillaah, seteguk rindu untukIbuku yang tetap paling hebat telah terbasuh dengan melihat keikhlasan yang tiada tara dari Ibu yang barusan, sayang aku tidak ahu siapa nama beliau, tapi siapapun nama beliau, semoga segera diberi kesembuhan dan semoga keikhlasannya malayani keluarganya menjadi pemberat timbangan kebaikannya. Aamiin :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar